Kamis, 17 Juni 2010

Ber Shaf Menuju Kemenangan

Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
QS. ash-Shaff (61) : 1

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?
QS. ash-Shaff (61) : 2

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.
QS. ash-Shaff (61) : 3

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
QS. ash-Shaff (61) : 4

Dan bertasbihlah kita kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dialah yang menentukan siapa yang layak untuk dimenangkanNya atau dijadikan kalah dan terhina. Tidak ditentukan apakah dia seorang muslim (hamba Allah) ataupun kafir. karena kemenangan seorang muslim adalah ketika dia menjadi seorang abid (hamba) hingga akhir hayatnya. Tetap di jalan Nya istiqomah tidak berubah dan tidak pula hanya berbicara saja, tanpa pernah merealisasikan keyakinannya. Tidak hanya Giroh/semangat yang membara tetapi menjadi pendiam ketika bertemu perintah yang membahayakan dirinya dan mencoba selalu berdalih dengan hujah untuk melindungi kecintaanya pada dunia dan ketakutannya kepada kematian.

Dan bertasbihlah kita kepada Allah Yang Maha Pembuat Makar. Dialah dengan perintaNya akan selalu mendampingi para Mujahid yang tidak pernah gentar dengan musuh-musuhnya meski mereka lebih banyak dan lebih terlatih, juga lebih kuat peralatannya, lebih hebat strategi/makarnya, terlihat lebih rapih barisannya. Dan dia para mujahid tetap konsisten berjihad melawan para penista Allah yang dengan segala dalih dunia tidak pernah mengakui perintah-perintahNya, mencoba menjadikan tuhan dalam dirinya dengan membuat hukum bid'ah yang tak mendasar kecuali karena arogansi diri dan kelompoknya juga kecintaan pada suku dan golongannya hingga menganggap hukum Allah sudah tidak layak dan tidak bijaksana saat direalisasikan sekarang di bumiNya.

Dan bertasbihlah kita kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Penutup Dosa-dosa hambaNya. Dialah yang sebenar-benarnya memberi petunjuk kepada siapapun yang selalu berserah diri kepadaNya, bukan kepada hamba-hamba yang lupa dan melupakan dirinya bahwa dirinya adalah hamba dan pernah menyatakan sumpah setia kepadaNya, akan tetapi kenyataanya mereka lebih memilih menjadi andad di dunia karena kesombongan dirinya dihadapan para pengikutnya dengan propaganda yang disertai hujah yang tidak sesuai peruntukannya, dan memilih bercerai berai serta melemahkan jamaahnya, tidak mau diluruskan dan dikritik, menolak ajakan untuk kembali kepada trah nya sebagai mujahid yang seharusnya senantiasa berjihad melawan musuh Allah. Yang dengan segala ketakutannya terhadap penjara dan eksekusi mati, lebih baik bungkam meski matanya melihat dan telinganya mendengar bagaimana Thogut senantiasa menolak ajakan untuk kembali kepada syariat Allah, dan senantiasa bersatu dengan negara kufar untuk memerangi para mujahid Allah, malah membentuk solusi menyatukan gerak langkahnya didalam sistem yang jelas-jelas jahiliyah dengan dalih meminimalisir mudharot, dengan dalih strategi penetrasi dan infiltrasi, dengan dalih penghijauan politik, dengan dalih kondisi hudaibiyah, dengan dalih Revolusi Budaya, dengan dalih kita masih belum saatnya berperang....

Rasulullah bersabda, “Aku memerintahkan kalian dengan lima hal yang Allah telah perintahkan aku dengannya: Mendengar dan Taat, Jihad, Hijrah dan Jama’ah.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Rasulullah bersabda, "Akan senantiasa ada di antara ummatku suatu kelompok/jama’ah yang tampil membela kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan (tidak menolong) mereka sehingga datang ketetapan Allah, sedang mereka tetap dalam keadaan demikian." (HR. Muslim)


Tentara Islam Indonesia (TII) dibentuk oleh Negara Islam Indonesia (NII) sebagai tentara resmi negara. Sejak berdirinya NII maka saat itu pula negara dalam keadaan perang (Komando Umum NII, 23 Desember 1948) dan sejak dikeluarkannya MKT (Maklumat Komandemen Tertinggi) tentang peleburan ketentaraan 15 Oktober 1949, maka praktis seluruh komponen negara adalah Tentara. Maka sejak saat 10 September 1950 seluruh rakyat umat islam Indonesia yang bergabung dengan NII harus melakukan Bai'at ketentaraan, dengan poin-poin dibawah ini :

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Bismillahi tawakkalna ‘alallah, lahaula wala quwwata illa billah!
Asjhadu an-la ilaha illallah, wa asjhadu anna Muhammadar Rasulullah.

Wallahi. Demi Allah!

1. Saja menjatakan Bai’at ini kepada Allah, dihadapan dan dengan persaksian Komandan Tentara/Pemimpin Negara, jang bertanggung djawab.

2. Saja menjatakan Bai’at ini sungguh-sungguh karena ichlas dan sutji hati, lillahi ta’ala semata-mata, dan tidak sekali-kali karena sesuatu diluar dan keluar daripada kepentingan Agama Allah, Agama Islam dan Negara Islam Indonesia.

3. Saja sanggup berkorban dengan djiwa, raga dan njawa saja serta apapun jang ada pada saja, berdasarkan sebesar-besar taqwa dan sesempurna-sempurna tawakal ‘alallah, bagi:
a. Mentegakkan kalimatillah—li—I’lai Kalimatillah—; dan
b. Mempertahankan berdirinja Negara Islam Indonesia; hingga hukum Sjari’at Islam seluruhnja berlaku dengan seluas-luasnja dalam kalangan Ummat Islam Bangsa Indonesia, di Indonesia.

4. Saja akan tha’at sepenuhnja kepada perintah Allah, kepada perintah Rasulullah dan kepada perintah Ulil Amri saja, dan mendjauhi segala larangannja, dengan tulus dan setia-hati.

5. Saja tidak akan berchianat kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada Komandan Tentara, serta Pemimpin Negara, dan tidak pula akan membuat noda atas Ummat Islam Bangsa Indonesia.

6. Saja sanggup membela Komandan-komandan Tentara Islam Indonesia dan Pemimpin-pemimpin Negara Islam Indonesia, daripada bahaja, bentjana dan chianat darimana dan apapun djuga.

7. Saja sanggup menerima hukuman dari Ulil Amri saja, sepandjang ke’adilan hukum Islam, bila saja inkar daripada Bai’at jang saja njatakan ini.

8. Semoga Allah berkenan membenarkan pernjataan Bai’at saja ini, serta berkenan pula kiranja Ia melimpahkan Tolong dan Kurnia-Nja atas saja sehingga saja dipandaikan-Nja melakukan tugas sutji, ialah haq dan kewadjiban tiap-tiap Mudjahid: Menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia! Amin.

9. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!


9 poin bai'at ini adalah sumpah setia seluruh mujahid kepada Allah, Rosulullah, dan Ulil Amri yang senantiasa taat kepada Allah dan RosulNya, untuk melaksanakan hukum Allah, membela umat islam atas penjajahan syariat oleh RI, dan membumikan syariat Allah dengan menggalang Negara Karunia Allah Negara Islam Indonesia. Bai'at ini adalah sumpah setia sebagai TII yang berarti siap berperang melawan musuh-musuh Allah atau lebih baik terkapar ditanah sebagai syuhadaNya. Bai'at ini adalah sumpah setia untuk membela para pemimpin yang selalu berjihad dan menyertainya dengan bershaff dibawah kepemimpinannya dalam peperangannya melawan negara thogut Republik Indonesia hingga negara dzalim itu hancur lebur bersama demokrasi dan faham ultra nasionalis yang menjadi misi politiknya dalam mempertahankan teritorial yang jelas-jelas merupakan hasil rampasan dari wilayah-wilayah NII. Dan inilah bai'at satu-satunya yang harus menjadi ketetapan dalam hati setiap jiwa-jiwa yang telah dengan ikhlas meleburkan dirinya dalam revolusi untuk penegakan syariat di bumi Allah ini. Dan inilah bai'at satu-satunya yang menjadi sumpah para mujahid akan senantiasa berperang melawan RI hingga darah yang terakhir dari mujahid terakhir akan menetes sebagai saksi bahwa TII memegang sumpah setianya dalam jual belinya dengan Allah sebagai pemilik jiwa dan semangat pembelaan terhadan DienNya, dan bukti mahabah (cinta) yang tulus terhadap Allah, Rosulullah, dan Jihad Fii Sabilillah.

Dan ketika Bai'at ini terlanggar (dengan tidak melanjutkan peperangan dengan RI malah menyatukan dirinya bersama sistem RI yang Dzalim) maka terputuslah tiap jiwa-jiwa itu terhadap kewajiban ketaatannya kepada NII karena Negara sudah melakukan Bara'ah (berlepas diri) terhadap mujahid yang tidak mau lagi melaksanakan Jihad (Perang) karena dianggap sudah berkhianat terhadap sumpah setianya baik kepada Allah, Rosulullah, dan Jihad (termasuk didalamnya berkhianat kepada Ulil Amri dan Negara).

Dan hal inilah pada kenyataanya yang terjadi didalam Negara Karunia Allah ini. Setelah kekalahan perang tahun 1965, penangkapan besar-besaran para jendral yang sedang merintis kesatuan kembali terjadi pada tahun 1978 dan mempasifkan para alumni yang telah membaktikan diri pada negara untuk i'dad di Afganistan dan Moro hingga keluar kebijakan dari sebagian pemimpin yang melarang para bawahannya untuk i'dad atau mempersiapkan kembali peperangan maka mereka (sebelum datangnya taubat) telah melanggar sumpahnya. Para pemimpin itu telah menjadi andad (tandingan Allah) karena membuat syariat baru didalam tubuh negara ini. Dan mereka (pemimpin-pemimpin itu) dengan para pengikutnya akan menyesal di kemudian hari.

QS. al-Baqarah (2) : 165
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

mereka telah melupakan jual beli itu :

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
QS. at-Taubah (9) : 111

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat (dalam rangka jihad), yang ruku yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.
QS. at-Taubah (9) : 112

mereka berfikir kemenangan akan semakin dekat dengan jumlah mereka yang bertambah, atau karena posisi-posisi didalam struktur politik RI yang telah banyak dikuasai, atau karena mereka merasa kursi-kursi di dewan RI lebih empuk dari singgasana surga (areal i'dad), atau karena maraknya yayasan dan LSM yang mereka bentuk, atau karena-karena yang lain .... hanya mereka sedirilah yang faham dalam mind set yang sudah berubah itu, dimana mereka seolah olah kemenangan itu akan mereka raih tanpa Revolusi, tanpa peperangan, tanpa setetes darah pun yang mereka korbankan.

Dan mereka para mujahid TII yang masih setia kepada Jihad (yang merupakan program NII yang tidak pernah berubah), pada akhirnya memisahkan dirinya dari shaf yang dikuasai para komandan yang berkhianat terhadap sumpahnya itu, mereka dengan terpaksa membentuk kelompok-kelompok kecil, tercerai berai, dan menjadi bulan-bulanan tentara Thogut. Meski mereka tetap istiqomah, tetap melakukan i'dad secara siri, melakukan sarijah-sarijah, melakukan sabotase dan eksekusi, tapi mereka adalah kelompok kecil yang tidak didukung para komandan tidak pula umat. Tapi Demi Allah yang menggenggam jiwa dan raga mereka, tetaplah mujahid TII yang konsisten itu lebih baik dari pada para pimpimpinan yang duduk berleha-leha menunggu giliran baromij (scedule kerja), mereka lebih baik dari pimpinan yang dengan telunjuknya memerintahkan untuk menghentikan i'dad dengan berbagai alasan yang intinya adalah khauf. Mereka lebih baik daripada kelompok-kelompok yang melakukan kolaborasi gerakan melalui sistem thogut yang nyata-nyata dzalim.

Dan para pimpinan dengan arogannya menyatakan bahwa mereka (mujahid TII yang konsisten terhadap Jihad Fii Sabilillah) sudah menyempal dari Negara (NII). Padahal pada kenyataannya adalah diri merekalah (para pimpinan) yang sudah menyempal dari Negara, mereka menyempal dari jalah Allah, Jihad Fii Sabilillah. Mereka menyempal dari hukum-hukum NII (Maklumat Komandemen Tertinggi), mereka menyempal dari pernyataan Imam awal (Asy Syahid Kartosuwirjo) bahwa Mujahid TII lebih baik syahid daripada harus menerima syariat Jahiliyah. Dan ketahuilah, bahwa saat ini sepanjang belum ada sejengkal tanahpun kita bebaskan, mujahid TII dengan terpaksa atau dipaksa, disengaja atau tidak disengaja harus menerima resiko yang memalukan, yaitu dihukumi oleh hukum-hukum jahiliyah, hidup dalam sistem jahiliyah, yang setiap harinya matanya, telinganya, nafasnya, tangan dan kakinya, otak fikirannya, jiwanya, bersemayam dalam tradisi-tradisi jahiliyah. Masuk ke pintu-pintu rumah mereka, bercokol dalam anak dan istri mereka, meski setiap saat, setiap detik hingga hari sampai tahun berganti, mencoba bertahan dengan benteng-benteng keimanan yang secuil itu, mencoba bertahan dengan tarbiyah dan tausiyah, mencoba bertahan dengan tahajud serta dzikir di tengah malam, tapi ketahuilah, hingga syariat ini tidak ditegakan, hingga tanah-tanah Darul Islam tidak kembali dibebaskan, hingga Firaun-firaun itu tidak dibinasakan, maka kejahiliyahan akan tetap ada disekitar kita, menguntit dan menunggu, jika kita tidak berhasil mereka jinakan, maka giliran istri-istri kita, dan jika istri-istri kita tidak berhasil pula, maka anak dan generasi mendatang dari darah daging kita akan dijadikannya generasi jahiliyah, tanpa ada yang mampu membela.

Dan kita, masih berfikir untuk menunggu dan menunggu, masih berfikir hanya ke dakwah dan dakwah tok (padahal sudah sekian generasi yang didakwahi tapi kemudian pada akhirnya disempalkan juga) tanpa berusaha merealisasikan isi dakwahnya (tentang jihad dan penegakan syariat), dan masih berfikir bahwa kita akan memenangkan peperangan dengan thogut ini hanya dengan cara berkoar-koar, tanpa merealisasikannya? sungguh kita akan dibenci oleh Allah (QS. Ash Shaff:2-3), dan ketahuilah wahai yang mengaku dirinya mujahid (tapi tidak mempersiapkan diri untuk berperang), bahwa Rosulullah melakukannya (dakwah) hanya tempo 13 tahun dari 25 tahun kenabian. Rosulullah tidak pernah menunggu hingga "banyak" untuk membebaskan Yastrib menjadi Madinah, tidak pernah menunggu hingga seluruh Qurais itu menjadi pengikutnya, tidak menunggu hingga kultur di Mekah menjadi tauhid (hingga Futuh Mekah terjadi, berhala-berhala didalam Ka'bah masih tersimpan rapih, termasuk ketika Rosulullah melakukan Umrah pertama paska Hudaibiyah), tidak pernah menunggu persetujuan para Yahudi (yang jelas-jelas membencinya) untuk menancapkan bendera di bumi para Anshar.

Dakwah adalah hanya sebuah fase, fase dimana eksistensi Allah harus disampaikan, fase dimana seluruh umat manusia harus sanggup memilih setelah segalanya (tentang syariat Allah) dimaklumatkan dengan terang benderang, jadi bukan untuk mengajak mereka yang hatinya telah menjadi batu untuk bergabung bersama jama'ah islam, karena ketika islam telah tegak dan mempunyai kekuatan serta kekuasaan penuh, toh pada akhirnya mereka akan berbondong-bondong bertaubat dan menggabungkan diri dengan islam.


[1] Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
[2] Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
[3]
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.

An Nashr:1-3

Jadi dakwah seyogiannya adalah fase menuju penghimpunan kekuatan. Karena untuk mengislamkan sebuah masyarakat apalagi Negara, Rosulullah melakukannya melalui fase Jihad Fii Sabilillah, melalui fase Revolusi Fisik, fase penegakan Darul Islam di Madinah dengan sebuah kekuatan nyata. Dan apakah mungkin, sebuah nahi munkar dalam rangka penghancuran kemunkaran yang dimunculkan oleh sebuah sistem politik dzalim dapat terjadi, jika dilakukan melalui gerakan kultural (budaya) tanpa power yang sepadan, yaitu sebuah kekuatan politik dan militer yang seimbang dengannya (sistem politik yang dzalim itu), apakah mungkin wahai para Mujahid? maka terkutuklah pada akhirnya umat Yahudi yang berfikir bahwa menolak peperangan dan mempertahankan jama'ah untuk (menurut mereka) tidak masuk pada kebinasaan (karena kehancuran yang diakibatkan perang).

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.

Mereka berkata: "Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya".


Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".


Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja".


Berkata Musa: "Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu".


Allah berfirman: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu".


Al Maidah 21-26







Membentuk Shaf yang dicintai Allah

Kita tentunya berharap kemenangan akan datang kepada kita, dan hanya generasi yang dicintaiNyalah yang akan mendapatkannya. Sebuah generasi yang bershaff seperti shaff yang dicintaiNya pula. Sebuah shaf yang kokoh kuat seperti benteng perang yang tak tertembus lawan. Shaff seperti inilah yang benar-benar dicintaiNya (QS. Ash Shaff:4). Bukan shaf yang bercerai-berai, saling mengutuk saling menolak, tidak menyatukan hati dan barisannya karena konflik kepentingan. Kadang saling curiga, hingga saling memfitnah. Bukan, bukan shaf yang seperti ini yang akan mendapatkan kemenangan dariNya. Shaf yang seperti ini adalah ciri khas shaf orang-orang munafik, shaf yang dimiliki hanya oleh orang-orang yang tidak pernah ikhlas dalam jihadnya. Karena shaf yang kuat hanyalah terdiri dari orang-orang yang saling terkoneksi kepada Allah dan sesamanya, terkoneksi oleh buhul tali yang sangat kuat, buhul tali yang tercipta oleh keikhlasan dalam mencintaiNya dan mencintai hamba-hambaNya. Yaitu orang-orang yang benar-benar telah mengingkari segala jenis Thogut dan hanya menerima Allah saja sebagai illah nya. Baik dalam hatinya maupun dalam gerak dan langkahnya...

Al Baqarah:256,
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

dan hanya sedikit dari yang sedikit diantara para mujahid yang mampu melaksanakannya.

“ Zaman sekarang, kita benar-benar terjebak dalam krisis amal jama’i. Betapa susahnya menemukan mereka yang mendapatkan barokah dengan bersikap tenang dalam ketaatan terhadap Amir, serius dan tanpa banyak bicara, tetap teguh pada tugas yang telah diprogramkan. Bersikap waspada, banyak diam, sembari terus berlatih dan tidak terpengaruh situasi global hingga tujuan mereka tercapai. Sikap semacam inilah yang seharusnya dimiliki para mujahid dan ahluddin hari ini”. (Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisy)

mereka adalah Al Hawariyun, sekumpulan pasukan inti yang akan menggerakan Revolusi. Bisa jadi mereka bukan orang-orang bertitel dunia, bisa jadi mereka bukan orang-orang kaya secara materi, bisa jadi mereka bukanlah orang-orang mulia (secara duniawi), mungkin mereka adalah orang-orang yang terbiasa termarjinalkan di masyarakat hedonis, mereka adalah orang-orang yang tidak pernah terperhatikan saking biasa-biasa saja, tapi dalam hatinya hanya ada Allah, Rosulullah, dan Jihad fii sabilillah. Dalam cita-citanya hanya ada syahid, dalam kebenciannya hanya ada thogut dan kejahiliyahan, merekalah sebenar-benarnya penolong agama Allah, merekalah Al Hawariyun :

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.(Ash Shaff:14)

Hanya manusia seperti inilah yang mampu memenangkan peperangan dengan Thogut manapun di dunia ini. Sekelompok orang yang melupakan pertentangan pribadi seperti Bani Aus dan Khajraj, sekelompok orang yang tidak perduli pada jabatan politik maupun segala kemewahan dunia lainnya seperti para muhajirin Bani Qurais. Mereka seluruhnya terkonsentrasi pada satu tujuan, menolong Agama Allah.

Paradigma seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh para mujahid TII. Mind set yang saat ini banyak terkontaminasi oleh ideologi gerakan tanpa hujah karena dibentuk oleh logika sungguh telah mencemari jalan jihad yang suci dan sudah melenceng jauh tak terkendali. Maka kemenangan hanyalah utopia belaka. Karena itu kondisi ini tidaklah boleh terjadi hingga berlarut-larut dan umat tetap terbodohi. Titel Mujahid bukanlah kepada orang yang setiap harinya selalu berdakwah membawa ayat-ayat jihad, titel Mujahid adalah pemberian dari Allah al Aziz, bagi siapapun yang berperang di jalanNya. Dan Allah telah melapangkan jalanNya bagi rakyat Indonesia sejak awal hingga saat ini, ketika Thogut sudah jelas-jelas menampakan keingkarannya. Ketika Thogut memerangi setiap mukmin yang menghendaki penegakan syariat di Bumi Allah ini.

Mengembalikan Mind set kembali ke paradigma awal adalah satu-satunya cara untuk menyatukan seluruh kekuatan TII yang ada di Negara ini (NII), maka setelah paradigmanya kembali lurus (murni dalam paradigma Qur'an dan NII), pembentukan barisan yang kokoh kuat tidaklah sulit lagi. Mereka akan kembali satu dalam sebuah ideologi gerakan yang sama. Tanpa akan ada konflik kepentingan yang senantiasa menjerumuskan para mujahid pada perpecahan dan kebencian. Ikhlas untuk dipersatukan tanpa melihat latar belakang ataupun faksi, seluruhnya meleburkan diri dalam satu akselerasi gerakan yang dipandu oleh Qur'an dan para Komandan yang istiqomah memimpin Revolusi hingga akhir (ketika futuh Mekah/ NKRI dihancurkan). Maka terbentuklah sebuah gelombang Revolusi yang tidak akan ada kekuatan manapun mampu menghalanginya, dimana partikel yang didalamnya adalah makhluk-makhluk yang mencintai Sang Kholiq lebih dari apapun yang tampak di dunia. Dan yang paling penting dari segalanya adalah Allah pun mencintainya, dimana barisan itu terbentuk atas dasar dan dinaungi oleh Al Jabar Sang Pemaksa. Maka barulah kemenangan akan semakin mendekat dan mendekat, hingga kemulyaan islam benar-benar akan terasa oleh para abdi-abdiNya. Dan Thogut akan luluh lantak meninggalkan sejarah suram bagi bangsa Indonesia yang lama. Demokrasi Pancasila akan terbakar oleh api Revolusi yang tidak lagi padam, karena sumber energinya adalah Giroh Jihad atas dasar Mahabah kepada Rabbnya. Hukum-hukum Jahiliyah akan musnah tak berbekas, seperti daun-daun yang dimakan ulat atau dinding-dinding kayu yang dilahap rayap. Negara Karunia Allah akan benar-benar mendapat karuniaNya, seperti pohon yang menjulang tinggi dengan batang kayu yang kokoh kuat dan akar yang menancap ke bumi, pohon ini akan memberi berkah kepada seluruh mahluk yang dibawahnya, memberi manfaat kepada yang ada di sekitarnya.

Ibrahim:24-25

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit
pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar